Mari Mengnal Vaksin, Penjelasan Sederhana Tentang Vaksinasi

Mengenal Vaksin
Mengenal Vaksin

Mari Mengnal Vaksin, Penjelasan Sederhana Tentang Vaksinasi

Sobat peternak sekalian, Kita tentunya sudah sering mendengar kata vaksin. Sebagian peternak pemula bahkan salah kaprah tentang vaksin ini, ada yang mengira vaksin ini sejenis obat untuk mencegah penyakit atau bahkan untuk mengobati penyakit.

Ketika kami bertanya kepada sekelompok peternak masih ada yang menjawab, “Ya pokoknya vaksin itu buat melawan penyakit”. Tidak banyak yang punya pemahaman tentang bagaimana vaksin bekerja dalam membantu pertahanan tubuh kita melawan penyakit.

Sistem Imunitas Ayam Broiler & Layer

Bicara soal vaksin, pastinya kita harus ngomongin sistem pertahanan (imunitas) tubuh. Gue menganalogikan sistem pertahanan tubuh manusia terhadap penyakit dengan sistem pertahanan sebuah Benteng terhadap gempuran musuh luar.

Mengenal Vaksin
Mengenal Vaksin

Secara sederhana, Benteng memiliki 3 lapis pertahanan untuk melindungi dirinya dari musuh.

Pertahanan Benteng – Pengamanan lapis pertama

Pertama, ada DINDING yang menjadi lapisan terluar sekaligus perlindungan pertama dari pertahanan benteng. jika  kita liat di film-film, dinding benteng dibuat tinggi dan kokoh biar tidak sembarang orang bisa masuk atau untuk menahan gempuran banyak musuh yang berusaha masuk. Tapi sayangnya, sekokoh dan setinggi apapun dinding yang dibangun, tidak semua musuh bisa dibendung. Ada aja musuh yang bisa masuk. lalu  Bagaimana dong?

Pertahanan Benteng lapis kedua

Kedua, benteng punya PASUKAN PATROLI. Jika ada musuh atau orang asing yang berhasil masuk, praktis para pasukan inilah yang akan langsung turun tangan melawan dan melumpuhkan musuh tersebut. Tapi, para pasukan ini tidak bekerja secara “pintar”. Mereka secara “buta” melibas siapa saja yang asing di benteng ketika lagi patroli. Padahal kan, tidak semua orang asing yang masuk benteng adalah musuh. tidak semua musuh juga terang-terangan masuk ke benteng mau bikin rusuh. Ada aja musuh yang diam-diam masuk benteng , bergerilya, menghimpun kekuatan dan menyerang dari dalam. Bagaimana dong cara mengatasi musuh-musuh jenis ini?

Pertahanan Benteng lapis ketiga

Nah, ketiga, benteng punya MATA-MATA/INTELIJEN atau semacamnya yang bisa lebih “pintar” membaca gerak-gerik musuh. Mereka inilah yang bisa membedakan mana kawan mana lawan. Mereka juga yang memberikan instruksi ke para pasukan untuk meringkus para pembuat onar di benteng.

Itu dia 3 lapis pertahanan pada sebuah Benteng. Sekarang kita coba balikin lagi ke analogi sistem pertahanan tubuh manusia.

Pengamanan Internal,  Pertahanan Tubuh Ayam

Kira-kira bagian tubuh mana ya yang berperan layaknya dinding Benteng dalam menangkal kuman penyakit (patogen)?

Benar, KULIT yang sehat dan utuh emang menjadi garda terdepan dalam melindungi kita dari patogen. Kulit yang rusak atau hilang (misalnya akibat luka bakar) akan meningkatkan risiko infeksi. Selain kulit luar, ada juga membran-membran yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh yang turut berperan sebagai pembatas. Namun, layaknya dinding tinggi sebuah Benteng, kulit dan membran tubuh tidak bisa membendung semua kuman penyakit. Ada aja kuman penyakit yang berhasil masuk ke jaringan tubuh. Bagaimana dong cara mengatasinya?

Pengamanan Internal lapis kedua, Pertahanan Tubuh Ayam

Lanjut ke lapisan berikutnya dari pertahanan tubuh kita. Di sini, kita mulai masuk ke pelajaran Biologi kelas 8 SMP atau kelas 11 IPA SMA, yaitu tentang Sistem Peredaran Darah.

Pada sel darah ada yang namanya LEUKOSIT atau sel darah putih. Leukosit ini terbagi jadi beberapa jenis. Tapi saya tidak akan terlalu detil bahas semuanya di sini. saya akan menekankan beberapa yang penting aja.

leukosit indo
Jenis-jenis sel darah putih (leukosit)

Jenis leukosit yang berperan layaknya pasukan patroli di tubuh kita adalah basofil, neutrofil, eosinofil, dan monosit. Di antara pasukan patroli, MONOSIT adalah pasukan yang paling “Sangar”. jika  di anime, ada Naruto yang bisa berubah jadi mode Rikudou. Di tubuh kita, si Monosit ini bisa berubah jadi MAKROFAG (mode perangnya monosit) yang bisa menelan dan mencerna mikroorganisme dan racun pembawa penyakit. Proses menelan dan mencerna mikroorganisme ini disebut dengan fagositosis. Satu makrofag bisa menghajar dan memakan hingga 100 zat asing.  Hajaaar mas brooo….!!!!!

fagositosis
Proses fagositosis

Seperti pasukan patroli di Benteng , Makrofag dkk melibas apa saja yang “asing” bagi tubuh. Padahal tidak semua zat asing masuk tubuh kita membawa ancaman. jika  misalnya seseorang melakukan transplantasi jantung atau ginjal, transplan organ itu akan dianggap asing dan diserang juga oleh makrofag dkk.

Oleh karena itu, kita perlu sistem yang lebih pintar. Sistem yang bisa mengidentifikasi mana lawan mana kawan. Sistem yang bisa mendeteksi adanya musuh bahkan sebelum musuh itu sendiri menunjukkan wajah aslinya dan merusak jaringan tubuh. Sistem yang bisa menyusun strategi dan memberikan instruksi pada pasukan makrofag dkk untuk membekuk si pembawa penyakit.

Pengamanan Internal Lapis ketiga, Pertahanan Tubuh Ayam

Tugas itu diemban oleh LIMFOSIT. Merekalah yang berperan layaknya mata-mata atau intelijen di sistem imunitas tubuh. Limfosit terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Limfosit B dan Limfosit T. LIMFOSIT B bertugas untuk membentuk antibodi. LIMFOSIT T bertugas untuk mengenali zat asing mana yang membuat onar di tubuh kita.

Apa itu Antibodi?

Lapisan pertahanan terakhir tubuh kita melibatkan pembentukan antibodi. Ini juga nih istilah yang lumayan sering disebut dalam kehidupan sehari-hari, tapi rata-rata pada tidak tahu mekanisme dari antibodi itu sendiri.

 Kalau  kita intip pengertian yang ada di buku cetak:

Antibodi adalah protein yang dihasilkan oleh sistem imunitas sebagai respons terhadap keberadaan antigen (zat asing) dan akan bereaksi dengan antigen tersebut.

Pada umumnya, molekul antibodi berbentuk seperti huruf Y. Bagian ujung atas masing-masing antibodi punya bentuk yang unik. Bentuk ujung ini berguna sebagai identifier antigen (zat asing). Bentuk ujung tiap antibodi ini menyesuaikan bentuk protein khas yang ada di permukaan zat asing yang diresponnya.

Gampangannya seperti ini:

  • Antibodi X, bentuk ujung segitiga, menyesuaikan bentuk protein permukaan bakteri X yang segitiga.
  • Antibodi Y, bentuk ujungnya lonjong, menyesuaikan bentuk protein permukaan virus Y yang lonjong.
  • Antibodi Z, bentuk ujungnya persegi, menyesuaikan bentuk protein permukaan antigen Z yang persegi.

Contoh ilustrasi Bentuk Antibodi

Ketika misalnya ada bakteri X yang memiliki protein permukaan berbentuk segitiga masuk ke tubuh kita, si antibodi X (yang bentuk ujungnya juga segitiga) akan bereaksi. Reaksi macam apa? Karena bentuk ujungnya sama, antibodi X mampu mengikat si bakteri X, menahan, dan menandainya biar para pasukan fagosit (makrofag dkk) bisa langsung datang, menelan, dan mencerna si bakteri X tadi.

Lymphocyte_activation_simple

antibodi mengikat, menahan, dan menandai antigen

Bisa dikatakan, sekumpulan antibodi adalah database/memori yang berisi informasi zat asing (antigen) mana saja yang berpotensi membawa penyakit ke tubuh kita. Antibodi ini semacam “catatn kriminal” yang harus diwaspadai seluruh Benteng. Dengan memiliki catatan ini, seisi Benteng bisa cepat tanggap mengatasi penjahat yang masuk bahkan sebelum penjahat itu beneran bikin rusuh, “Kamu datang kemari mau bikin rusuh ya?? Sebelum bikin rusuh kita hajaaar”

Bagaimana Caranya Antibodi Diproduksi?

Wah, sepertinya membantu sekali ya jika  kita bisa punya memori penyakit. Jadi kita tidak perlu jatuh sakit dulu, baru bisa meringkus si pembuat onar. lalu  Bagaimana dong caranya tubuh kita membentuk dan mengembangkan koleksi informasi penyakit ini?

Nah, (sayangnya) secara alami, tubuh kita membentuk memori penyakit ini (masih) dengan cara yang “agak lemot”. Maksudnya, tubuh baru bisa memproduksi antibodi ketika tubuh terpapar suatu jenis penyakit yang diakibatkan oleh antigen (zat asing) tertentu.

Contoh ilustrasinya begini. Ada zat asing (antigen) X yang benar-benar asing masuk ke tubuh kita. Tubuh tidak punya catatan informasi apa-apa mengenai antigen X ini. Zat asing ini kawan atau lawan ya. Yaudah deh, kita awasi aja dulu gerak-geriknya. Baru setelah si antigen itu merusak jaringan, sistem imunitas tubuh menyalakan alarm, “Wah, ternyata dia buat onar, hajar hajaar.” Tubuh udah keburu jatuh sakit duluan sehingga butuh waktu yang lama untuk memeranginya. Ketika lo lagi batuk, bersin, hingga demam; itu berarti pasukan imunitas kita lagi perang.

Ketika akhirnya pasukan fagosit berhasil meringkus antigen tadi, makrofag akan mengambil beberapa fragmen protein permukaan dari antigen X. Makrofag kemudian melapor dan menyerahkan fragmen tersebut ke Limfosit T. Limfosit T akan menghidupkan alarm dan menginstruksikan pasukan fagosit lain untuk datang ke TKP, mengkloning diri/memperbanyak diri, dan membantu pembasmian. Selanjutnya, Limfosit T akan mengenali (sensing) bentuk protein permukaan yang diserahkan makrofag tadi dan meneruskan informasi tersebut ke Limfosit B. Limfosit B akhirnya memproduksi antibodi yang bentuk ujungnya sesuai dengan bentuk fragmen sisa dari antigen tadi.

Contoh ilustrasi Bentuk Antibodi
Contoh ilustrasi Bentuk Antibodi

Sampai titik ini, tubuh udah punya informasi dan membentuk imunitas (kekebalan) terhadap si antigen X. “Kami udah tahu ulah kamu kemarin. Kami catet ya. Awas kamu.. Lain kali jika  macam-macam…Tak Abyaarrke!

antibodi mengikat, menahan, dan menandai antigen
antibodi mengikat, menahan, dan menandai antigen

Bagaimana ceritanya jika  si antigen X tadi beneran masuk lagi ke tubuh kita?

Kasusnya-nya, tubuh udah benar-benar kebal terhadap antigen X. Contohnya, buat yang Ayam yang sudah pernah menderita cacar, kecil kemungkinannya untuk menderita cacar air untuk kedua kalinya. Karena ketika pertama kali menderita cacar air, tubuh kita sudah membentuk antibodi yang menghindarkan kita untuk jatuh ke lubang yang sama.

Skenario lain, saat kedua kalinya antigen X yang sama masuk lagi ke tubuh, si antigen masih membuat kerusakan, tapi tidak separah sebelumnya. Saat pertama kali masuk ke tubuh, misalnya demam yang ditimbulkan cukup tinggi dan berlangsung dalam waktu yang lama. Saat kedua kalinya antigen masuk ke tubuh, sistem imunitas bisa lebih cepat dan tanggap mengatasinya. Hasilnya, demam yang ditimbulkan tidak begitu tinggi dan waktu kesebuhannya-nya juga lebih cepat.

Tentunya, sungguh tidak efektif jika  kita harus nunggu terpapar suatu jenis penyakit dulu baru bisa memiliki antibodi (memori penyakit) yang bersesuaian. Ada begitu buaanyak virus, bakteri, parasit, dan berbagai zat asing lain di luar sana yang berpotensi menimbulkan kerusakan jika masuk ke dalam tubuh. Apa kita harus sakit berkali-kali tiap ada zat asing baru yang masuk ke tubuh kita?

Ada tidak ya cara untuk “memanipulasi” sistem imunitas / dayatahan ayam biar kita punya memori penyakit yang cukup mantabb tanpa menunggu si penjahat masuk ke dalam tubuh?

Caranya adalah dengan membentuk imunitas/kekebalan buatan. Ada beberapa cara untuk membentuk imunitas buatan, salah satunya dengan pemberian VAKSIN.

Vaksin sebagai Imunitas Buatan

Pada 1796, ilmuwan Edward Jenner menyuntikkan bahan yang ia ambil dari virus cacar sapi ke seorang anak berusia delapan tahun dengan harapan bahwa penyuntikan itu akan memberikan perlindungan yang diperlukan untuk menyelamatkan orang-orang dari wabah cacar (smallpox/variolla) yang menjadi penyakit paling menular dan menelan banyak korban jiwa di Eropa pada abad ke-18. Dan hasilnya sukses. Si anak menjadi kebal terhadap penyakit cacar yang sedang merebak dan momen itu menjadi “kelahiran” vaksin pertama di dunia kesehatan.

Sepanjang abad 18 dan 19, vaksinasi massal cacar dilakukan dan pada 1979, WHO resmi menyatakan cacar telah berhasil diberantas (eradication). Ini adalah sebuah prestasi yang menjadi salah satu kemenangan kesehatan publik terbesar sepanjang sejarah.

* Cacar (smallpox) ini beda ya dengan cacar air (chickenpox) yang masih biasa kita liat sekarang. Cacar disebabkan oleh virus Variolla yang bersifat letal (mematkan). Sedangkan cacar air disebabkan oleh virus Varicella zoster yang tidak letal. 

Vakisn Pox

Berbagai macam vaksin pun dikembangkan untuk mengatasi wabah penyakit mematikan lain. Sejak vaksin polio diperkenalkan pertama kali oleh Jonak Salk pada 1955, penyakit polio sudah nyaris diberantas dari muka bumi ini. Pada 2014, dilaporkan masih ada 358 kasus infeksi polio. Tapi jumlah kasus ini “tidak ada apa-apanya” dibandingkan pada era 1940an ketika hampir setengah juta manusia lumpuh atau meninggal karena infeksi polio tiap tahunnya.

Vaksin telah menyelamatkan jutaan jiwa dan membuat penyakit yang dulu mematikan kini hanya menjadi kenangan buruk.

Nah, sebenarnya vaksin itu apa sih?

Vaksin adalah patogen/bibit penyakit yang mati/dilemahkan atau toksin/racun yang telah diubah. Vaksin dapat memicu reaksi imunitas/kekebalan, tetapi tidak menyebabkan penyakit.

Analoginya, vaksin itu seperti musuh yang udah dilumpuhkan, lalu  diarak keliling Benteng, biar seisi Benteng pada tau, mengingat wajah, dan potensi ancaman yang dia bawa. “Nih ya, di Benteng tetangga, dia bikin onar. jika  suatu hari kalian liat dia atau komplotannya masuk ke Benteng kita, jangan cuma diam, langsung bertindak.”

Seperti pengertiannya, vaksin bertujuan agar tubuh kita bereaksi dan membentuk antibodi dengan bentuk yang bersesuaian. Karena udah dilumpuhkan, patogen itu tidak akan menimbulkan penyakit. Dengan adanya sistem imunitas buatan ini, tubuh kita bisa langsung proaktif memerangi patogen karena tubuh udah punya informasinya tanpa harus mengalami pengalaman buruk dulu dengan si patogen tersebut.

Beberapa contoh vaksin: vaksin BCG (bacille calmette guerin) untuk melawan TBC, vaksin TFT (tetanus formol toxoid) untuk melawan tetanus, vaksin MMR (measles mumps rubella) untuk melwan campak, dan masih banyak lagi.

Oke deh, sekian dulu cerita saya tentang vaksin. saya harap artikel ini bisa membantu kita memahami tentang vaksin dan kegunaannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*