Menghadapi Tantangan Musim Hujan: Optimalisasi Produktivitas Ayam dengan Pencegahan Penyakit Respiratory Disease Complex (CRD)

ayam ngorok, ayam cekres, ayam cekres, sukss ternak broiler

Pendahuluan

Sebagian peternak merasa cemas saat musim hujan tiba karena biasanya produktivitas ayam menurun dibandingkan musim panas. Ayam menjadi lebih rentan stres, sensitif terhadap lingkungan, dan mudah terserang penyakit pada musim hujan. Selain itu, ada beberapa permasalahan lain yang sering muncul seperti penurunan kualitas air minum dan pakan, kurangnya pencahayaan, kondisi lingkungan kandang yang tidak nyaman karena kelembapan tinggi, dan genangan air yang menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit seperti lalat dan nyamuk.

Penyakit pernapasan ayam seperti Chronic Respiratory Disease (CRD) dan CRD Kompleks sangat terkait dengan kondisi lingkungan yang tidak stabil. Kejadian penyakit ini dapat terjadi pada setiap musim, termasuk musim kemarau, musim hujan, dan musim pancaroba. Data kejadian kasus CRD dan CRD Kompleks dari bulan Januari 2021 hingga Juli 2022 menunjukkan fluktuasi sepanjang tahun 2021. Pada musim kemarau, dengan perbedaan suhu siang dan malam yang ekstrem, serta pada musim hujan dengan kelembapan lingkungan yang tinggi, kondisi ini memicu stres pada ayam dan menjadi lingkungan yang ideal untuk tumbuh dan berkembangnya penyakit.

Peternakan dengan sistem pemeliharaan kandang terbuka (open house) lebih rentan terhadap kondisi lingkungan yang tidak stabil. Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan diri menghadapi penyakit CRD dan CRD Kompleks di musim hujan dengan mengenal lebih dalam tentang penyebab, faktor predisposisi, pencegahan, dan penanganannya. Dengan begitu, peternakan ayam dapat melewati musim hujan dengan produktivitas yang tetap optimal.

Penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD) pada ayam dapat menjadi permasalahan serius karena sifatnya yang kronis dan kemampuannya menyerang sistem pernapasan di semua kelompok umur ayam. Karakteristik “kronis” pada penyakit ini menjelaskan bahwa perkembangan penyakit berlangsung secara perlahan, namun dalam rentang waktu yang panjang dan sulit untuk disembuhkan.

Penyebab

Penyebab utama CRD adalah infeksi oleh Mycoplasma gallisepticum, suatu mikroorganisme dengan sifat mirip bakteri. M. gallisepticum umumnya berbentuk coccoid, mendekati bundar atau oval, dengan ukuran 0,25 – 0,5 μm. Mikroorganisme ini sensitif terhadap sinar matahari dan berbagai jenis desinfektan, seperti Neo Antisep New Formula, Medisep, atau Sporades. Uniknya, M. gallisepticum tidak memiliki dinding sel, yang membuatnya tahan terhadap antibiotik golongan penicilin yang biasanya merusak dinding sel. Keberlangsungan hidupnya dapat terjadi dalam feses selama 1-3 hari pada suhu 20°C, dalam kuning telur selama 18 minggu pada suhu 37°C, atau selama 6 minggu pada temperatur 20°C.

Infeksi M. gallisepticum seringkali berkolaborasi dengan agen infeksi lain, seperti bakteri Escherichia coli (E. coli). E. coli, yang umumnya ditemukan di lingkungan yang kotor, dapat menyebabkan penyakit colibacillosis. CRD yang menyerang saluran pernapasan memberikan peluang bagi bakteri lain, seperti E. coli, untuk ikut menginfeksi ayam, menghasilkan kondisi yang disebut CRD kompleks, yaitu kombinasi dari CRD dan colibacillosis.

Kejadian penyakit CRD dan CRD kompleks cenderung tinggi pada berbagai periode pemeliharaan ayam, terutama saat terjadi pergantian musim dan fluktuasi cuaca. Perubahan musim, terutama saat musim hujan dengan curah hujan tinggi, dapat memengaruhi kualitas air di lokasi peternakan. Peningkatan curah hujan seringkali mengakibatkan genangan air, menjadi tempat ideal bagi parasit, serangga, cacing, dan mikroorganisme patogen, termasuk E. coli, untuk berkembang biak.

Pada musim hujan, bibit penyakit tersebut dapat dengan cepat menyebar dengan dukungan dari aliran air yang tinggi. Selain itu, air sumur pun berpotensi tercemar. Tempat penampungan air yang kotor juga dapat menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri coliform atau E. coli. Kehadiran bakteri ini dalam air yang diminum ayam dapat meningkatkan risiko terjadinya kasus colibacillosis.

CRD memiliki sifat imunosupresif, mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh ayam. Saluran pernapasan ayam, yang dilengkapi dengan pertahanan mekanik berupa silia, dapat mengalami kerusakan akibat serangan CRD. Silia berperan sebagai salah satu sistem pertahanan primer yang mencegah masuknya bibit penyakit. Dengan merusak silia, CRD membuka pintu bagi bibit penyakit lain untuk masuk ke dalam tubuh ayam. Komplikasi dengan penyakit colibacillosis sering terjadi di lapangan, membentuk kondisi CRD kompleks.

Kejadian kasus CRD dan CRD kompleks lebih mungkin terjadi pada kondisi stres. Faktor-faktor stres seperti manajemen pemeliharaan yang kurang baik, tingginya kadar amoniak di kandang, keberadaan debu di lingkungan kandang, pemeliharaan ayam dengan umur yang berbeda dalam satu lokasi atau pemeliharaan multiumur, fluktuasi suhu antara siang dan malam, dan tingginya kelembapan di lingkungan kandang dapat mendukung munculnya penyakit ini. Oleh karena itu, penanganan yang cermat dan pencegahan yang tepat perlu diterapkan agar peternakan ayam dapat melewati musim hujan dengan produktivitas yang optimal.

Penularan Penyakit CRD dan CRD Kompleks

Mycoplasma gallisepticum, agen penyebab penyakit CRD (Chronic Respiratory Disease), dapat disebarkan dalam populasi unggas melalui dua jalur utama, yaitu secara vertikal dari induk yang terinfeksi kepada anak ayam, dan secara horizontal melalui berbagai medium termasuk aerosol, kontaminasi pakan, air, lingkungan, serta sarana produksi ternak. Infeksi yang ditimbulkan oleh M. gallisepticum cenderung bersifat kronis pada sebagian unggas, dengan kemampuan bertahan yang dapat mencapai berhari-hari hingga berbulan-bulan. Faktor stres pada unggas dapat mempercepat penularan horizontal melalui aerosol, yang kemudian dapat menyebabkan penyebaran infeksi dalam satu kandang atau kawanan.

Setelah terinfeksi oleh M. gallisepticum, unggas tersebut kemudian akan mempertahankan status infeksi seumur hidup, berperan sebagai pembawa atau reservoir bagi penyakit tersebut. Penularan dari satu kawanan (flock) unggas ke kawanan lainnya dapat terjadi secara mudah melalui kontak langsung atau tidak langsung, baik melalui pergerakan unggas, interaksi dengan burung liar, alat-alat produksi ternak, atau bahkan aktivitas pekerja dari kawanan yang terinfeksi menuju kawanan yang rentan. Kondisi kandang yang berdekatan serta praktek pemeliharaan unggas dalam satu lokasi dengan umur yang bervariasi dapat memperparah potensi penularan antar kawanan.

Selain itu, Escherichia coli juga merupakan salah satu agen patogen yang berperan dalam kompleks penyakit CRD. Penularan E. coli dapat terjadi secara vertikal dari induk kepada anak ayam, sering kali mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi pada fase awal pertumbuhan anak ayam. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan ayam yang terinfeksi, menginfeksi unggas yang sensitif. E. coli sering kali diklasifikasikan sebagai bakteri patogen oportunistik, yang berperan sebagai penyebab penyakit sekunder atau menyerang ketika sistem kekebalan tubuh unggas melemah, misalnya akibat dari infeksi CRD yang menyebabkan imunosupresi.

Kondisi stres pada unggas juga dapat memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi E. coli setelah terinfeksi oleh M. gallisepticum. Penularan E. coli juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui kontak dengan bahan-bahan yang tercemar oleh sekresi tubuh atau feses ayam yang terinfeksi colibacillosis. Dengan demikian, penularan penyakit CRD dan CRD kompleks dapat melibatkan interaksi kompleks antara berbagai agen penyebab dan faktor-faktor lingkungan, memerlukan pendekatan yang holistik dalam upaya pengendalian dan pencegahannya dalam industri peternakan unggas.

Proses terjadinya penyakit CRD dan CRD Kompleks melibatkan serangkaian tahapan yang kompleks dalam interaksi antara organisme patogenik dan sistem pertahanan tubuh inang. Patogen utama yang terlibat dalam penyakit ini adalah Mycoplasma gallisepticum, yang memasuki tubuh ayam melalui saluran pernapasan. Saluran pernapasan ayam secara alami dilengkapi dengan mekanisme pertahanan, termasuk bulu getar (cilia) dan lapisan lendir (mukus). M. gallisepticum menempel pada reseptor epitel yang disebut sialoglikoprotein, kemudian menyerang dan merusak mukosa epitel sambil berkembang biak.

Infeksi M. gallisepticum menginduksi respons radang, yang menyebabkan peningkatan aliran darah di daerah yang terkena. Bakteri ini kemudian dapat menyebar melalui aliran darah dan menjangkau kantung udara, di mana M. gallisepticum cenderung berkembang biak dengan subur.

Selain itu, M. gallisepticum memiliki kemampuan untuk menghambat aktivitas cilia melalui ciliostaticnya, yang memperparah kerentanan inang terhadap infeksi. Lebih lanjut, bakteri ini juga mensekresikan hidrogen peroksida, yang menyebabkan terjadinya stres oksidatif pada membran sel inang. Kerusakan pada cilia dan stres oksidatif yang diinduksi oleh M. gallisepticum memungkinkan penyakit lain untuk memasuki tubuh inang dan berkontribusi pada perkembangan penyakit yang lebih parah.

Penyakit yang sering kali terjadi bersamaan dengan infeksi M. gallisepticum adalah collibacilosis, yang kemudian dikenal sebagai CRD kompleks. Interaksi kompleks antara M. gallisepticum dan faktor-faktor lainnya, baik dari patogen lain maupun faktor lingkungan, memainkan peran penting dalam patogenesis penyakit ini, yang pada gilirannya mengarah pada kompleksitas diagnosis, pengobatan, dan pengendalian penyakit pada ayam.

Gejala Klinis dan Perubahan Patologi Anatomi pada Chronic Respiratory Disease (CRD)

Masa inkubasi CRD berkisar antara 6 hingga 21 hari, dengan gejala klinis yang terjadi bervariasi, mulai dari subklinis hingga kesulitan bernapas, tergantung pada tingkat keparahan penyakit tersebut. Manifestasi klinis yang umum meliputi keluarnya lendir dari hidung dan ngorok, serta pembengkakan dan peningkatan produksi cairan pada konjungtiva mata.

Turunnya asupan pakan disertai dengan penurunan berat badan di bawah standar merupakan indikasi lain dari adanya infeksi CRD. Pada ayam petelur, infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan penurunan produksi telur yang berkelanjutan. Apabila terjadi kolibasilosis bersamaan, gejala tambahan dapat meliputi tremor, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, serta peningkatan FCR (Feed Conversion Ratio) atau rasio konversi pakan. Anak ayam mungkin akan lebih sering terlihat berkumpul di sekitar sumber panas.

Kasus CRD yang kompleks dapat mengakibatkan tingkat kematian yang signifikan, mencapai 10-15% hingga 20%. Di sisi lain, tingkat kematian pada CRD murni cenderung lebih rendah, sekitar 5% atau bahkan nihil.

Perubahan patologi anatomi yang terjadi meliputi pembentukan lendir di rongga hidung dan sinus, yang pada perkembangan lanjut dapat berubah menjadi lendir berwarna kuning dengan konsistensi mirip keju. Selain itu, kantung udara juga dapat menjadi keruh atau mengandung lendir, yang dikenal sebagai airsaculitis, merupakan perubahan patologi anatomi khas pada ayam yang terkena CRD. Pada saluran pernapasan atas, terjadi peradangan pada laring dan trakhea.

Pada kasus yang rumit, di mana CRD berkomplikasi dengan kolibasilosis, dapat ditemukan peradangan pada perikardium, kapsula hati (perihepatitis), dan kantung udara. Peradangan juga sering terjadi pada saluran telur. Perubahan lainnya meliputi pembengkakan dan perubahan warna selaput lendir trakea menjadi merah kekuning-kuningan.

Diare berwarna hijau, kuning keputih-putihan sering terjadi, dan ayam yang menunjukkan gejala ini cenderung memperlihatkan tingkat kematian yang cepat. Pada ayam muda yang terinfeksi CRD, gejala yang umum terjadi meliputi kelemahan tubuh, sayap terkulai, dan feses berwarna seperti tanah.

Pencegahan Penyakit Respiratory Disease Complex (CRD)

Kasus Penyakit Respiratory Disease (CRD) dan CRD Kompleks merupakan kejadian yang dapat terjadi dalam setiap periode pemeliharaan ayam. Namun, dengan memperhatikan aspek-aspek terkait manajemen pemeliharaan, kemunculan kasus tersebut dapat diminimalisir. Untuk mencegah penyakit CRD dan CRD kompleks, diperlukan perbaikan yang komprehensif dalam sistem manajemen pemeliharaan, yang mencakup langkah-langkah sebagai berikut:

1. Seleksi DOC yang Optimal

Pertama-tama, perbaikan dapat dimulai dengan melakukan seleksi yang cermat terhadap Day Old Chick (DOC) yang akan dipelihara. Karena penyakit CRD dan colibacillosis dapat ditularkan secara vertikal, seleksi awal pada DOC menjadi krusial. Keberhasilan dalam mencegah CRD dan CRD kompleks sering kali berawal dari fase brooding. Peternak hendaknya memilih DOC dengan kualitas yang baik, karena penerimaan DOC dengan berat badan di bawah standar dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit pernapasan seperti CRD dan CRD Kompleks. Selain itu, perbaikan pada sistem pemanas/brooding juga diperlukan, karena fase ini menjadi indikator awal keberhasilan dalam mencegah penyakit tersebut. Pengendalian kadar amonia di dalam kandang, baik melalui pengaturan ventilasi maupun pengelolaan tumpukan feses, juga menjadi langkah penting dalam pencegahan.

2. Manajemen Litter

Kondisi litter harus dijaga agar tetap kering, terutama saat musim penghujan. Tindakan seperti pembolak-balik litter perlu dilakukan secara teratur untuk mencegah kelembaban dan pembekuan litter, yang dapat memicu penyakit gangguan saluran pernapasan dan pencernaan. Penggunaan bahan seperti Ammotrol dapat membantu mengikat amonia di litter, mengurangi risiko peningkatan kadar amonia dalam kandang.

3. Ventilasi Udara yang Optimal

Sistem ventilasi udara yang baik sangat penting untuk menjaga kualitas udara di dalam kandang. Udara yang tercemar, terutama oleh amonia dan CO₂, perlu diganti dengan udara segar. Pengaturan buka tutup tirai kandang serta perhatian terhadap ketinggian lantai panggung dan jarak antar kandang merupakan faktor penting dalam menjaga sistem ventilasi udara yang optimal.

4. Mempertahankan Kesehatan Ayam

Upaya utama dalam menjaga kesehatan ayam adalah dengan menghindari faktor-faktor stres seperti penyakit, lingkungan yang tidak nyaman, dan manajemen pemeliharaan yang buruk. Pemberian multivitamin dan suplemen seperti Improlin-G dan Immunose dapat membantu meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh ayam.

5. Penerapan Biosekuriti

Penerapan biosekuriti meliputi perbaikan tata laksana kandang, sanitasi dan desinfeksi lingkungan kandang, serta sanitasi air minum. Pengujian air secara rutin juga dianjurkan untuk mengukur tingkat cemaran bakteri. Selain itu, tindakan seperti pembersihan talang air minum dan penggunaan perangkat Harsonic untuk mencegah pembentukan biofilm juga perlu dilakukan.

Biosecurity pada peternakan ayam mengacu pada serangkaian langkah atau tindakan yang dirancang dan diterapkan untuk mencegah masuknya, penyebaran, dan keluarnya penyakit di antara populasi ayam. Tujuannya adalah untuk melindungi kesehatan ternak, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi risiko penyebaran penyakit yang dapat berdampak negatif pada peternakan dan industri secara keseluruhan.

Penerapan biosecurity pada peternakan ayam mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan lingkungan kandang, pengaturan lalu lintas orang, hewan, dan peralatan, hingga pengawasan ketat terhadap pengunjung dan barang yang masuk ke dalam area peternakan. Langkah-langkah biosecurity yang umum meliputi:

  1. Kontrol Akses: Peternakan harus memiliki pengaturan yang ketat terhadap siapa saja yang masuk ke dalam area peternakan. Ini termasuk mengatur pintu gerbang, memasang tanda peringatan, serta menyediakan fasilitas cuci tangan atau perlengkapan pelindung seperti pakaian atau sepatu khusus.
  2. Sanitasi: Membersihkan dan mensterilkan peralatan, kendaraan, dan fasilitas secara teratur merupakan langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit. Hal ini juga mencakup pembersihan dan pengelolaan limbah dengan benar.
  3. Manajemen Pekerja: Menyediakan pelatihan kepada petugas peternakan tentang praktik biosecurity yang tepat, serta memastikan bahwa mereka mematuhi prosedur yang telah ditetapkan untuk mencegah penyebaran penyakit.
  4. Kontrol Hewan Liar: Melakukan langkah-langkah untuk mengurangi interaksi antara ayam dan hewan liar seperti burung liar atau hewan liar lainnya yang dapat menjadi pembawa penyakit.
  5. Pengawasan Kesehatan Ternak: Melakukan pengawasan kesehatan yang ketat terhadap ayam untuk mendeteksi penyakit dengan cepat dan mencegah penyebarannya.
  6. Isolasi dan Karantina: Memisahkan ayam yang sakit atau baru datang dari luar untuk mengurangi risiko penularan penyakit kepada populasi ayam yang sehat.
  7. Pengelolaan Lingkungan: Memastikan kondisi lingkungan kandang yang sehat dengan pengaturan ventilasi yang baik, pengelolaan litter yang tepat, dan mengendalikan faktor lingkungan lain yang dapat mempengaruhi kesehatan ayam.

Penerapan langkah-langkah biosecurity ini dapat membantu melindungi peternakan ayam dari penyakit yang dapat mengganggu produktivitas, kesehatan, dan keberlangsungan operasional peternakan secara keseluruhan.

Pengobatan

Pengobatan untuk kasus CRD dan CRD kompleks sudah banyak dibahas diberbagai media dan penggunaan antibiotic juga banyak tersedia di pasaran. Akan tetapi, kesemuanya itu terkadang tidak memberikan hasil yang optimal. CERDEX, berbeda dengan obat anti ngorok lainnya yang umumnya merupakan antibiotik yang beredar di pasaran. Antibiotik umumnya masuk melalui saluran pencernaan, diserap oleh usus, dan didistribusikan ke seluruh tubuh, termasuk saluran pernafasan, untuk memberantas mikroorganisme penyebab ngorok. Proses ini bersifat panjang dan tidak terfokus pada sumber penyakit. CERDEX, sebaliknya, memiliki cara kerja yang berbeda.

Penggunaan CERDEX untuk mengatasi CRD

CERDEX bekerja secara langsung ke pusat penyebab ngorok, yaitu saluran pernafasan. Ini dilakukan dengan membunuh kuman, menghancurkan sel yang terinfeksi, dan mengeluarkan lendir yang menyumbat saluran pernafasan. Penggunaan antibiotik saja mungkin dapat mengatasi mikroorganisme penyebab ngorok, tetapi jika lendir masih menyumbat saluran pernafasan, ayam akan tetap mengalami kesulitan bernafas. Hal ini dapat berakibat pada penurunan produksi (daging maupun telur), rentan terhadap serangan penyakit lain, dan akhirnya kematian.

CERDEX menjadi solusi bagi permasalahan gangguan pernafasan yang menjadi ancaman serius bagi para peternak. Infeksi pada saluran pernafasan dapat menyebabkan penurunan berat badan hingga kematian, terutama jika penyakit tersebut telah berkompilikasi dengan coli, meningkatkan risiko kematian.

Ketika gejala ngorok muncul, antibiotik saja terkadang tidak cukup efektif dalam meredakan penyakit. Hal ini karena mikroorganisme penyebab penyakit sudah berkembang biak di sel-sel saluran pernafasan dan lendir telah terbentuk. Ayam akan kesulitan bernafas karena tidak memiliki mekanisme untuk mengeluarkan lendir tersebut, menyebabkan stress berat dan melemahnya daya tahan tubuh. Serangan penyakit lain yang menyertai infeksi saluran pernafasan ini dikenal sebagai CDR COMPLEX. Antibiotik mungkin dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme yang menginfeksi, namun tidak efektif dalam mengatasi lendir yang sudah terbentuk, yang menjadi penyebab kesulitan bernafas dan penurunan daya tahan tubuh.

CERDEX mengandung DMSB dan Respiratory Cytotoxin Agent yang terbukti efektif mengatasi gejala ngorok pada unggas. Dengan cara menghancurkan sel tempat berkembang biak mikroorganisme, membunuh mikroorganisme penyebab ngorok, dan menghilangkan lendir yang menyumbat saluran pernafasan, CERDEX memberikan solusi yang efektif.

Penggunaan CERDEX dilakukan dengan dosis 20ml per 15 liter air yang disemprotkan sebagai kabut pada unggas yang terinfeksi ngorok, dua kali sehari. Efektivitas CERDEX dapat terlihat relatif cepat, umumnya pada hari kedua sudah terjadi penurunan kasus yang drastis.

Melalui manajemen pemeliharaan yang baik dan penerapan biosekuriti yang ketat, diharapkan kasus penyakit CRD dan CRD kompleks dapat dicegah. Semoga informasi ini dapat meningkatkan pemahaman kita semua dalam menjaga kesehatan ternak, terutama di musim hujan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*